Suka Duka Relawan Pendamping ODGJ

kabar17.com¬†–¬†Menjadi relawan pendamping Orang Dengan Ganguan Jiwa (ODGJ) bukanlah suatu pekerjaan yang lumrah. Mungkin hanya sedikit orang yang rela mengabdikan hidupnya untuk pekerjaan seperti ini. Ade Fatimah, adalah salah satu dari sekian orang yang mau mengabdikan diri menjadi relawan pendamping ODGJ di wilayah Barat, Kabupaten Bogor. Perempuan asal Kampung Sukamanah RT 01/03, Desa Pagelaran, Kec. Ciomas, Kab. Bogor ini, menuturkan, telah menjadi relawan sejak menjadi kader posyandu di tahun 2002. Namun khusus menangani ODGJ sejak Januari 2018.

“Lingkup kerja tiap relawan itu, berbeda-beda biasanya di bagi perwilayah. Ada wilayah Barat, Timur, Tengah, Utara, Selatan, dan masing-masing wilayah ada pendampingnya,” kata Ade saat ditemui di Kelurahan Padasuka, Kecamatan Ciomas, Senin (15/10/18).

Ade menuturkan, hal yang membuatnya termotivasi untuk terus mengabdikan diri yakni rasa kemanusiaan. Dia melihat orang dengan ganguan jiwa adalah manusia yang sudah sepantasnya diperlakukan sebagai manusia. “Karena mereka punya hak yang sama sebagai manusia, tidak pantas untuk dikucilkan, sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia untuk memanusiakan manusia,” ungkapnya.

Suka dan duka kerap dirasakannya, tak jarang rasa lelah kadang merongrong. Disisi lain, pekerjaan sukarela ini, belum memiliki upah tetap. “Yang di rasa sampai saat ini, kebanyakan sukanya daripada dukanya. Sukanya ya, senang bisa membantu yang membutuhkan. Senang yang tidak bisa di ganti dengan apa pun. Dukanya ada sedikit waktu yang tersita apalagi kalau sesuatu yang sangat mendesak dan darurat dari pihak klien,” lirihnya.

Meski tidak ada batasan waktu untuk hari dan jam kerjanya, tapi itu semua tidak pernah mematahkan tekadnya untuk terus menjadi bagian yang peduli dengan sesama. “Memang jam kerjanya tidak tentu. Yang pasti untuk waktunya kita bersinergi dengan semua pihak agar penanganannya tepat,” terangnya.

Ade menuturkan, hal menarik selama menjadi pendamping ialah bisa berinteraksi atau ngobrol bareng dengan ODGJ itu sendiri. Namun, ada juga hal yang tidak enak jadi relawan yaitu jika ada evakuasi di malam hari mau tidak mau dirinya harus turun ke wilayah. Bahkan, terkadang dirinya menerima laporan dari wilayah ada ODGJ ngamuk atau ODGJ yang harus segera di evakuasi.

“Selama 8 bulan terakhir menjadi relawan pendamping bersama relawan lainnya, kurang lebih sudah 250 penderita ODGJ yang saya dampingi penanganannya,” tutur Ade.

Ade berharap kepada keluarga yang memiliki penderita ODGJ untuk lebih fokus merawat dan mengobati. Jangan melihat sebelah mata karena mereka juga berhak punya masa depan.”Kami dan rekan-rekan sesama relawan pendamping ODGJ juga berharap mendapat perhatian pemerintah untuk masalah operasionalnya,” harap Ade. (yud)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*