Proyek Apartemen di Villa Duta Diprotes Warga

kabar17.com – Lagi-lagi pembangunan apartemen di tengah pemukiman di soal warga. Kali ini, terjadi di wilayah Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur. Salah satu rumah warga yang terdampak adalah milik NS. Rumahnya yang berada di jalan Lumayung Villa Duta, hanya berjarak sekitar lima meter dari lokasi proyek pembangunan apartemen milik PT Lorena Latersia Properti.

NS merasa tidak pernah memberikan izin atas pembangunan apartemen itu. Tapi yang terjadi proyek pembangunan terus berjalan sejak dari bulan Februari 2019 hingga Agustus saat ini. “Saya tidak pernah memberikan izin tapi mereka tetap membangun apartemen itu. Kami sebagai warga mempertanyakan dan tidak menyetujui adanya pembangunan apartemen itu,” ujarnya.

Ia mengaku, sebelum adanya pembangunan tersebut ada beberapa orang yang datang ke rumahnya silih berganti meminta izin untuk pembangunan apartemen. Karena penasaran, dirinya mendatangi Bappeda Kota Bogor guna mempertanyakan soal tata ruang di lingkungannya. Dan dari keterangan pihak Bappeda, ternyata di wilayahnya itu masih merupakan zona pemukiman dan belum ada perubahan zonasi.

“Saat itu, saya menunda tidak memberikan izin dengan alasan kawasan ini merupakan zona pemukiman. Dan itu sudah saya tanyakan kepada Bappeda. Tapi kenapa IMB untuk apartemen ini keluar, padahal saya sebagai warga terdampak belum memberikan izin,” keluhnya.

Dari informasi Bappeda soal tata ruang tadi, lanjutnya, apakah urgensinya harus ada apartemen di kawasan Villa Duta. Padahal di area lokasi Villa Duta itu rumahnya besar-besar dan mewah. Jadi, siapa yang membutuhkan apartemen itu sebenarnya, warga di sini atau siapa. Bukannya setiap pembangunan harus mengutamakan warga sekitar dulu. Ia juga mempertanyakan kepada Pemkot Bogor terkait keluarnya IMB untuk apartemen milik Lorena tersebut.

“Kenapa Pemkot Bogor mengeluarkan IMB? apakah zona ini sudah berubah? Kalau pun IMB berubah karena zona sudah berubah, kenapa tidak ada pemberitahuan kepada warga apalagi rumah saya sangat dekat dengan lokasi proyek apartemen itu,” tuturnya.

Bukan itu saja, NS juga mengaku rumahnya mengalami kerusakan mulai dari retak-retak tembok hingga keramik-keramik yang ada di rumahnya terangkat di beberapa bagian akibat getaran ketika pemasangan pondasi di awal pembangunan. Selain itu, dampak polusi udara, suara bising, bahkan para pekerja di proyek pembangunan melakukan kegiatan full selama 24 jam penuh yang menggangu kenyamanan saat beristirahat.

“Ketika mulai memasang pondasi, getarannya sangat mengganggu dan merusak bangunan rumah saya. Ada tembok yang retak bahkan ada keramik yang hancur. Sejak kejadian itu, tidak ada satupun pihak pelaksana, kontraktor ataupun pemiliknya datang untuk memperbaiki. Kami sebagai warga hanya menerima dampaknya saja,” ucapnya.

Ia mengatakan, sejak pembangunan berjalan, kenyamanan keluarganya sangat terganggu, sehingga NS sering tidak berada di rumah karena menghindari polusi udara. “Sudah tidak nyaman lagi, suara bisingnya sangat menggangu, bahkan tiap malam mereka bekerja sehingga menggangu ketika kami sedang tidur. Yang jelas kegiatan pembangunan sangat berimbas langsung ke rumah saya,” tandasnya.

NS meminta kepada Pemerintah Kota Bogor untuk segera turun tangan dan menghentikan seluruh aktifitas kegiatan pembangunan di lokasi. “Kami menuntut agar pembangunan apartemen setinggi 10 lantai dan 1 basement ini dihentikan total. Pemkot Bogor harus segera turun tangan untuk meninjau ulang perizinan dan amdalnya,” tutupnya. (*/KY)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*