Mengintip Kampung Ketupat di Sumurwangi Lamping

kabar17.com – Ketupat adalah panganan khas saat lebaran. Panganan ini, menjadi hidangan wajib ketika merayakan hari raya Idul Fitri. Tak ayal menjelang lebaran banyak pedagang yang menjual kulit ketupat. Di Kota Bogor, sentra pembuatan kulit ketupat salah satunya dapat ditemui di Kampung Sumurwangi Lamping RT 01/RW 11, Kelurahan Kayu Manis, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Di kampung ini, di sejumlah rumah terlihat warganya tengah menganyam daun kelapa berwarna kuning-hijau menjadi kulit ketupat. Karena sebagian besar warganya membuat kulit ketupat, kampung ini bisa juga disebut sebagai ‘Kampung Ketupat’.

Bahrudin (48), salah satu warga yang juga pengrajin ketupat mengatakan, kulit ketupat yang diproduksi warga biasanya dipasarkan ke sejumlah pasar di Bogor dan Jakarta seperti Pasar Anyar Merdeka, Pasar Kapuk, dan di Kebayoran Jakarta. Sedangkan sebagian lagi dijual keliling perumahan.

Kulit ketupat ini, kata Bahrudin, baru ia produksi H-3 sebelum lebaran. Dalam dua hari ia mengaku bisa memproduksi kulit ketupat sebanyak 3000 buah. “Kulit ketupat ini kita jual dengan harga Rp 7500 – 10 ribu per ikat (isi 10 buah). Alhamdulillah selalu habis terjual,” terangnya, Jumat (22/5/20).

Bahrudin mengungkapkan, ini adalah usaha musiman yang dilakukan setahun dua kali yakni setiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha saja. Namun untuk Idul Adha produksinya tidak terlalu banyak, paling setengahnya. Dan ini sudah menjadi tradisi warga setempat yang membuat kulit ketupat setiap mau lebaran. “Di rumah saya ada 4 orang yang bantu bikin ketupat. Kalau minta tolong orang lain, upah jasa kuli membuat satu ketupatnya saya kasi Rp100 rupiah,” imbuhnya.

Meski ini hanya usaha musiman, Bahrudin mengaku sudah menjalani usaha membuat kulit ketupat hampir 20 tahun. Di luar itu, kesehariannya ia bekerja sebagai penjual sayur di pasar. “Sekarang ini lagi turun pembuatan kulit ketupatnya. Dulu sehari itu kita bisa 2 kali ngirim ke pasar. Kalau sekarang sehari cuma sekali karena adanya PSBB. Jadi, kita tidak bisa masuk ke perumahan untuk menjual ketupat. Disamping itu, ketersediaan janur sebagai bahan baku ketupat sangat terbatas sehingga harganya juga naik. Dengan kondisi seperti itu kita pun ngga bisa naikin harga,” ungkapnya.

Sedangkan salah satu tokoh masyarakat setempat, Fiqri Alamsyah mengatakan, tradisi bikin ketupat di kampung ini sudah berlangsung secara turun menurun. Awalnya mungkin hanya beberapa rumah saja. Kemudian diajarkan ke anak-anaknya dan akhirnya berkembanglah ke rumah-rumah yang lain. “Di sini mah emang udah tradisinya tiap mau lebaran bikin ketupat buat dijual. Udah lama dari saya kecil, udah turun temurun puluhan tahun,” kata Fiqri.

Kalau dihitung, lanjut Fiqri, kurang lebih ada sekitar 20 KK yang memproduksi kulit ketupat di kampung ini. “Dalam satu hari itu bisa sekitar 20 ribu ketupat yang dibuat oleh warga kampung sini. Karena permintaan pasar juga besar dari situlah usaha pembuatan kulit ketupat di kampung ini berjalan puluhan tahun,” ucapnya.

Ditambahkan oleh Anthoni Chandra yang mewakili penduduk RT 01/RW 11 Kampung Sumurwangi Lamping, bahwa disini terdapat potensi yang cukup mumpuni bagi para penduduk Sumurwangi untuk mengembangkan UMKM. Salah satunya adalah produk rumahan kulit ketupat, mengingat komoditi ini sudah lama ada dan masih berjalan di hampir tiap-tiap kepala keluarga.

“Hanya saja saya melihat kendalanya saat ini adalah belum terkoordinasinya seluruh perajin kulit ketupat tersebut untuk menghasilkan dalam skala yang cukup besar sehingga bisa menjadi andalan penunjang perekonomian masyarakat kecil menengah. Harapan saya semoga Kp Sumurwangi ini bisa menjadi salah satu alternatif penghasil kerajinan kulit ketupat terbesar untuk daerah Bogor dan sekitarnya,” pungkasnya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*