Lestarikan Budaya Lewat Pameran Pusaka

Kabar17.com – Barisan Benteng Raya Padjajaran (BBRP) Bogor menyelenggarakan pameran Kujang di lantai 4 Bogor Trade Mall (BTM), Kota Bogor. Sebanyak 80 benda pusaka yang terdiri dari kujang, tombak, pedang, keris dan benda – benda pusaka bersejarah lainnya dipamerkan selama dua hari di mulai dari tanggal 24-25 Oktober 2018.

Dari sekian pusaka yang dipamerkan, ada satu pusaka tua yang diklaim berasal dari zaman Limuria atau zaman atlantis sebelum masehi, yaitu Pusaka Caluk. Pusaka ini, mulai muncul kembali setelah di pegang oleh raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Tarumanegara, Ratu Jaya SIingawarman.

Pusaka ini, pernah berangkat ke negara India karena Raja Singawarman adalah keturunan India sehingga berangkat ke India untuk pengangkatan putra mahkota dan seterusnya sampai akhirnya ke pendiri Padjajaran, Eyang Jaya Dewata saat meminang raja putri raja sunda Kentring Manik.

“Pusaka ini, terakhir dipegang oleh beliau dan saat ini, dipegang atau disimpan oleh saya. Saya mendapatkan pusaka ini, dari alam ghaib, bukan dari dunia manusia. Pusaka ini, saya dapatkan 10 tahun lalu,” ucap Ketua Umum BBRP Bogor, Atma Wirya, saat ditemui disela acara, Rabu (24/10/18).

Pusaka ini, lanjut Ki Atma sapaan akrabnya, terbuat dari batu dan lebih uniknya sekilas terlihat seperti batu biasa, namun saat di foto baru pusaka ini, akan berubah menjadi warna emas.

“Pusaka – pusaka ini, khususnya kujang dahulunya sebagai simbol jati diri, sedangkan pusaka lainnya seperti keris, tombak, pedang itu bisa dijadikan sebagai senjata atau alat untuk melawan seperti saat perang,” jelasnya.

Ki Atma menuturkan, pameran ini, bertujuan untuk mengedukasi anak sekolah, turis mancanegara dan masyarakat umum. Ki Atma pun berharap melalui pemeran ini, masyarakat atau turis mancanegara bisa mengenal sejarah pusaka terlebih sejarah Padjajaran, karena Bogor dahulunya dari Kerajaan Padjajaran.

“Setidaknya orang tua terdahulu kita atau nenek moyang kita memiliki budaya yang tinggi, karena pusaka ini, tidak mudah atau asal – asalan membuatnya,” ungkapnya.

Masih kata Ki Atma, sejarah pusaka juga mengajarkan untuk menghargai bahwa orang tua terdahulu atau nenek moyang memiliki teknik serta ilmu dan pengetahuan yang luas untuk membuat pusaka – pusaka, sehingga melalui pameran ini, masyarakat bisa terbuka dan mengetahui sejarahnya bahwa zaman dahulu Kerajaan Padjajaran merupakan cikal bakal adanya Bogor saat ini.

Disamping itu, sambungnya, pameran ini, bisa membuat masyarakat lebih mencintai sejarah atau bahasa sundanya “Buruk Buruk Papan Jati, Jore Jore Ge Lembur Sorangan, Saha Deui Lamun Lain Urang, Iraha Deui Lamun Lain Ayeuna”.

“Seperti halnya tulisan yang ada di Lawang Salapan “Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Sejak Ayeuna Sampeureun Jaga” yang artinya tidak akan ada saat ini, jika tidak ada masa lalu. Jadi, inilah salah satu aplikasi yang bisa kita berikan kepada masyarakat,” pungkasnya. (Tri)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*