Izin Adamar Asian Bistro Dipertanyakan

Kabar17.com – Polisi Pamong Praja (Satpol PP) meminta klarifikasi kepada penglola Adamar Asian Bistro terkait adanya aduan warga yang merasa terganggu dengan keberadaan diskotek di dalam restoran tersebut.

“Berdasarkan penjelasan yang bersangkutan bahwa di lokasi tidak ada DJ dan meja DJ begitu pun dengan lantai dansa. Tapi hanya panggung untuk live band saja,” ujar Kepala Bidang Penegakan Perda Satpol PP, Danny Suhendar kepada wartawan saat dikonfirmasi belum lama ini.

Menurut Danny, Adamar menjual minuman beralkohol (minol) lantaran sudah memiliki izin menjual minuman. “Izin golongan B dan C yang diterbitkan oleh Disperindag. Mereka juga memiliki TDUP dari DPMPTSP,” ungkapnya.

Sementara terkait keluhan warga, sambung Danny, kedua belah pihak sebenarnya sudah melakukan mediasi pada 7 Februari 2018. Hasilnya, Adamar berjanji takkan membuat kebisingan lagi. “Tapi kami akan langsung mendatangi lokasi Adamar untuk mengecek terkait adanya keluhan warga untuk mengambil langkah tindak lanjut,” katanya.

Sebelumnya, Warga Jalan Binamarga RT 04/RW 11, Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mencabut izin Adamar Asian Resto. Hal itu, lantaran restoran tersebut diduga telah menyalahi perizinan.

Salah seorang warga, Asrie Yuniaty mengatakan bahwa ia beserta keluarganya hampir satu tahun tak nyenyak tidur lantaran suara gaduh yang berasal dari dalam restoran. “Tiap malam saya selalu nelepon manajernya agar suara musik dikecilkan. Bahkan di tempat tersebut juga jual miras. Anak saya tiap hari telat terus sekolah, karena rumah kita bersebelahan,” ungkapnya kepada wartawan.

Awalnya, kata Asri, pihak Adamar meminta izin untuk membuat restoran, namun seiring waktu berjalan tempat tersebut justeru berubah menjadi diskotek. “Terus terang kami merasa terganggu dengan adanya tempat tersebut,” ungkapnya.

Ia pun mengaku telah empat kali melayangkan surat kepada Pemkot Bogor yang ditujukan kepada walikota, yang ditembuskan ke Satpol PP, Polsekta Bogor Timur, dan Camat Bogor Timur. “Sudah empat kali, dua kali saat Pak Usmar menjabat sebagai Plt Walikota dan dua kali lagi saat Bima Arya kembali aktif menjabat sebagai walikota,” paparnya.

Kendati demikian, hingga kini belum ada tanggapan apapun dari Pemkota Bogor terkait surat tersebut. “Sampai sekarang belum ada action. Intinya kami minta tempat itu ditutup, sebab kami merasa dibohongi. Izin awal restoran mengapa menjadi diskotek,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan oleh sang suami, Deni Eka Jaya Putra. Menurutnya, keberadaan tempat tersebut sangat mengganggu kehidupan keluarganya. “Karena kan rumah kami bersebelahan dengan tempat tersebut,” ungkapnya. (Tri)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*