Diciduk Satpol PP, Pengemis Bisa Sewa Mobil dan Supir

kabar17.com – Seorang pengemis di Kota Bogor dengan ciri hidung tak sempurna yang viral di media sosial karena kedapatan memiliki mobil berhasil diamankan Satpol PP Kota Bogor saat melakukan Giat PMKS bersama Dinas Sosial pada Rabu (20/3/19) pagi.

Satpol PP memergoki pengemis yang diketahui bernama Herman itu, sedang mengemis di persimpangan Yasmin. Saat itu juga petugas langsung membawanya ke kantor Satpol PP untuk dimintai keterangan dan selanjutnya diserahkan ke Dinas Sosial untuk ditindaklanjuti dan dibina.

Di kantor Satpol PP, pengemis yang bernama Herman itu berkilah, mobil tersebut bukanlah miliknya melainkan mobil rental yang ia sewa setiap hari. “Itu bukan mobil pribadi saya tetapi mobil rental yang saya sewa tiap hari 80 ribu sama jasa sopirnya untuk mengantar saya mengemis,” kata Herman membantah.

Herman mengungkapkan, dirinya mulai mengemis dari tahun 1995 dan sudah berkali kali pindah lokasi. Ia mengatakan, memulai aksinya dari jam 06.00 sampai jam 13.00 WIB. Pendapatan yang didapatnya dari mengemis sebesar Rp.150 ribu perhari.

Masih kata Herman, dirinya tinggal di Kampung Cisaup, Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Ia pernah memiliki tiga orang istri dan pernah menjalankan ibadah haji. Ia beralasan uang hasil mengemisnya itu, untuk membantu keluarganya.

“Saya punya satu anak, satu menantu dan dua cucu. Anak saya bekerja di Dinas Kebersihan Pamulang. Gajinya hanya Rp.800 ribu perbulan dan itu tidak cukup untuk penghidupan kami sebulan. Karena itu, saya mengemis untuk membantu keuangan di rumah,” ungkapnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kota Bogor, Azrin Syamsudin mengatakan, Herman merupakan warga Kabupaten Bogor. Maka itu, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Dinsos Kabupaten Bogor.

“Nanti kita koordinasi dengan Dinsos Kabupaten Bogor. Karena ada beberapa langkah. Pertama, kita akan lakukan home visit, betul tidak alamat pengemis tersebut dan kita akan datangi ke sana. Kedua, kita koordinasi dengan balai rehabilitasi sosial apakah model orang itu bisa diterima atau tidak sehingga nanti pembinaan lebih lanjutnya ada di balai rehabilitasi sosial,” kata Azrin saat ditemui di Kantor Dinsos Kota Bogor.

Jika ingin membuat jera, lanjut Azrin, mungkin perlu di terapkan peraturan daerah (Perda) nomor 8 tahun 2011. Di perda itu, ada kurungan 6 bulan. Namun, itu bukan ranah Dinsos tetapi masuk ke ranah penegak hukum.

“Tugas kami di Dinsos adalah melatih mereka dengan memberi keterampilan selama 3-6 bulan supaya mainsetnya berubah, kepercayaan dirinya meningkat dan tidak lagi mengemis. Itu tujuan dari rehabilitasi,” jelasnya.

Azrin juga mengimbau kepada warga Kota Bogor untuk tidak lagi memberikan sumbangan dalam bentuk apapun kepada pengemis yang meminta-minta di pinggir jalan. Karena hal itu dilarang dan sudah ada peraturannya. (KY)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*