Bakso Pa’de Jangkung, Dulu Dipikul Kini Punya 3 Cabang

kabar17.com – Berjualan bakso selama 50 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Butuh keteguhan, keyakinan, dan kesabaran untuk terus mengais rejeki demi kelangsungan hidup sehari-hari. Hal itulah yang dilakoni Paiman, pria kelahiran Wonogiri 1950 yang tetap konsisten berjualan bakso hingga saat ini. Penjual bakso dengan tinggi badan 180 cm ini, lebih akrab dipanggil Pa’de. Karena itulah, bakso dagangannya diberi nama Bakso Pa’de Jangkung.

Pa’de menceritakan, awal mula ia berjualan tahun 1969 di Jakarta. Karena belum memiliki modal yang cukup, ia berjualan ikut dengan temannya. Di Jakarta, ia berjualan bakso pikul dengan mendatangi kampung ke kampung. Masih sedikitnya kuliner bakso pada saat itu, membuat dagangannya selalu laris manis hingga habis terjual. Namun sayang hasil jerih payah mengumpulkan uang selalu dikuras oleh sejumlah preman kala itu. Kondisi tersebut membuat usaha yang dijalankan tidak lebih dari setahun bertahan.

Vakum selama beberapa bulan, akhirnya pa’de kembali memulai usaha berjualan bakso di daerah Bandung sekitar tahun 1969-1971. Dulu, bakso yang ia jajakan bernama bakso sapi ojolali. Kelihaiannya membuat masakan bakso membuat jajanan ini, disukai warga Bandung. Namun, lagi-lagi aksi premanisme yang meminta uang hasil jerih payahnya masih terjadi.

Kemudian di tahun 1971, pa’de memutuskan merantau ke Kota Bogor. Di sini ia mencari nafkah dengan kembali berjualan bakso. Di Bogor, pa’de tinggal di Kampung Tegal Manggah RG 03/03 Kelurahan Tegalega, Bogor Tengah, Kota Bogor. Ia berjualan dengan membuka tenda terpal di pinggir jalan.

“Dulu itu, harga bakso semangkok masih murah. Saya jual mulai dari harga 5 perak semangkok. Karena suka ada kenaikan harga bahan maka harga bakso juga naik jadi Rp100-250 rupiah semangkoknya. Terakhir paling tinggi itu, saya jual Rp2.500,” kata pria 69 tahun yang memiliki tiga anak dan enam cucu ini menuturkan, Kamis (5/9/19).

Ia mengatakan, sudah 48 tahun berjualan bakso di Kota Bogor. Pelanggannya pun beragam mulai dari pekerja, mahasiswa, pegawai kantoran hingga artis yang semuanya tidak hanya dari Bogor tapi ada juga yang dari luar kota. Bahkan, ada beberapa pelanggan yang memesan sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke Palembang, Bali, Malaysia, Hongkong, dan Belanda.

Ia mengaku tidak mau membuka usaha bakso di kampung halamannya karena sudah banyak yang menjalankan usaha serupa. Meskipun ada beberapa orang yang sempat menawarkan modal kepadanya namun ia tolak. Melewati masa-masa sulit dan berbagai hambatan, dengan keteguhan, pa’de tetap yakin menjalankan usaha baksonya ini. Kini kerja keras pa’de membuahkan hasil dengan mulai berjualan di tempat yang lebih nyaman dan permanen di Jalan Sancang No.7, Bogor Tengah. Tak hanya di satu tempat, bakso yang mulai memakai branding nama Bakso Pa’de Jangkung itu, juga membuka cabang di dua tempat yakni di Jalan Pahlawan, Bondongan dan Pasar Ah Poong Area C Sentul, yang semuanya dipadati oleh banyak pengunjung.

Pa’de mengatakan, yang menjadi unggulan dari bakso ini, adalah mempertahankan kualitas rasa bakso dan kuahnya. Tekstur baksonya cukup padat dan empuk karena dibuat memakai daging sapi kualitas premium. Untuk bakso yang disajikan juga tidak berlemak Kuah kaldunya yang dibubuhi irisan jeruk nipis menghasilkan rasa kuah yang gurih lagi menyegarkan. Di tambah sajian paru kering dan tahu goreng yang tidak semua penjual bakso melengkapi sajiannya dengan paru dan tahu goreng.

“Yang mengikuti usaha saya ini, yakni anak kedua saya. Dia yang menjalankan usaha di Jalan Pahlawan, Bondongan. Harapan saya usaha ini terus berjalan, makin besar, dan dapat terus dinikmati pelanggan, serta hasilnya bisa dinikmati anak cucunya kelak,” ungkapnya. (*/KY)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*