1.019 Peserta Sekolah Ibu Diwisuda

kabar17.com – Sebanyak 1.019 peserta Sekolah Ibu kembali di wisuda oleh Walikota Bogor, Bima Arya di Gor Indoor Pajajaran, Jalan Pemuda, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Rabu (4/9/19). Ketua Panitia Wisuda Sekolah Ibu, Artiana Yanar Anggraini mengatakan inti dari sekolah ibu ini adalah bagaimana bisa mewujudkan visi Kota Bogor menjadi Kota ramah keluarga. kemudian dengan misinya terwujudnya kota Bogor yang cerdas sehat dan sejahtera.

“Secara umum hasil dari hadirnya sekolah ibu ini data menunjukan khusus gugatan perceraian yang di ajukan oleh seorang istri itu berkurang, tetapi secara umum minimal mereka menjadi pionir masyarakat di sekelilingnya dan secara pribadi mereka bisa mewujudkan ramah keluarga, komunikasi antara istri, suami dan anak itu sehat,” ucapnya.

Ia menerangkan, bahwa sekolah ibu ini akan dilaksanakan setiap tahun, sebab sejak mulai percontohan pada tahun 2017 animo masyarakat untuk mengikuti sekolah ibu ini sangat positif, sehingga sekolah ibu ini sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat.

“Setiap tahun jumlah pesertanya berubah sesuai dengan kondisinya. Tahun ini saja peserta yang mendaftar sekolah ibu mencapai 2.010 orang, tetapi yang mengikuti wisuda sebanyak 1.930 orang,” terangnya.

Sementara itu, Walikota Bogor Bima Arya menuturkan bahwa ada dua agenda yang dilakukan oleh pemerintah kota ( Pemkot) Bogor dalam sekolah ibu ini, pertama merawat silaturahmi dengan ibu ibu ini melalui program program lanjutan yamg akan di rumuskan nanti bersama dinas terkait. “paling tidak evaluasi, monitoring, silaturhmi dan menyalurkan energi positif ibu ibu itu dalam berbagai macam kegiatan positif dari Pemkot Bogor,” terang Bima.

Kedua, lanjut Bima akan ada silaturahmi atau pertemuan dengan bapak bapak dari alumni peserta sekolah ibu ini secara bertahap. “Jadi ini kan kita mengarah ke keluarga, kalau bicara tentang sekolah bapak itu belum, tapi kita akan silaturahmi dulu dengan bapak bapaknya,” katanya.

Ditempat yang sama, Ketua TP PKK Kota Bogor Yane Ardian menyampaikan jika sekolah ibu sangat berkesan baginya, sebab ia melihat para peserta sangat bangga dengan toga yang dipakainya. Tetapi menurutnya toga yang dipakai bukan masalah kebanggan bahwa 20 kali pertemuan sudah selesai, justru toga di pakai itu adalah awal dari pengaplikasian ilmu yang di berikan di sekolah ibu.

Yane mengungkapkan bahwa sekolah ibu itu untuk memperluas persepsi, merubah perilaku dan menambah wawasan. “Artinya angka perceraian bukan lagi isu utama dalam pelaksanaan sekolah ibu. Kalaupun angka perceraian itu menurun, itu bonus yang kita terima dampak dari wawasan yang semakin bertambah pada ibu ibu,” ungkapnya. (KY)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*