Diduga Salah Sasaran, Anjas Tewas Dimassa

anjas editan

Semarang – Tiga pemuda menjadi korban amuk massa hingga menyebabkan satu diantaranya tewas. Diduga ketiganya menjadi korban salah sasaran.

Bagus Anjas Prasetyo (16) warga Kel. Purwosari Perbalan Gang G No.1. Rt 5 Rw 5 Semarang Utara, korban sempat di larikan ke RS Tugurejo dan mendapatkan perawatan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) sabtu malam (06/4) . Namun akhirnya nyawa korban tidak bisa di selamatkan.

Kejadian bermula pada sabtu malam (06/4) pukul 21.00 Wib, korban bersama kedua temannya, Bayu (19) dan Andre (18), sedang nongkrong di dekat sebuah rumah kos – kosan di Jalan Sapta Marga, Kelurahan Kembang arum Rt 4 Rw 6 Semarang Barat.
Saat sedang asyik berbincang – bincang ke tiganya di teriaki maling oleh warga setempat. Karena kaget dan takut, korban bersama ke dua temannya lari menyelamatkan diri.
Namun nahas bagi Anjas, dirinya tertangkap warga dan langsung di hajar warga, karena tidak bisa melawan akhirnya korban jatuh dan tidak sadarkan diri.
Korban mengalami luka cukup parah di bagian kepala karena pukulan benda tumpul dan sabetan senjata tajam. Setelah puas menghajar korban, warga yang mengeroyok pun langsung melarikan diri.
Dalam keadaan kritis, korban di bawa oleh warga setempat ke RS Tugurejo dan langsung mendapatkan perawatan di Ruang IGD. Namun, pada pukul 23.40 Wib, korban menghembuskan nafas terakhir karena kehabisan banyak darah.
Ayah korban, Andre (39) mengatakan, Ia tidak tahu persis peristiwa yang menimpa anaknya tersebut. Dirinya tahu ketika anaknya telah di bawa ke RS Tugurejo.
” Waktu itu saya baru pulang kerja, pas sampai di depan kos anak saya, saya lihat sudah banyak  warga berkumpul, pas saya tanya, katanya anak saya sudah di bawa ke Rumah Sakit, anak saya katanya di keroyok sama orang kampung sini, ketahuan mau nyuri motor, pas diteriakin maling anak saya malah kabur, habis itu di keroyok sampai kritis”, ujarnya dengan mata berkaca – kaca.
Keluarga korban mengatakan  laporan warga ke pihak kepolisian adalah bohong, pasalnya pelapor tidak bisa menunjukkan barang bukti motor yang akan di curi oleh korban. Keterangan sejumlah saksi juga berbeda, salah satu saksi mengatakan bahwa korban sudah membawa motor hasil curian kemudian warga tahu dan di teriaki maling sampai akhirnya di massa.
Namun keterangan dari saksi lainnya mengatakan bahwa korban baru akan mengambil motor, karena kepergok oleh warga kemudian korban lari lalu warga meneriakinya maling.
Petugas sempat kesulitan untuk menyelidiki kasus pengeroyokan yang di duga salah sasaran, karena dari pihak keluarga awalnya tidak mengijinkan untuk di lakukannya autopsi. Namun setelah di berikan beberapa penjelasan oleh petugas akhirnya keluarga mengijinkan untuk dilakukan autopsi.
” Saya kasihan kalau harus di autopsi, tapi kalau tidak di autopsi nanti tidak bisa meneruskan kasus ini. Saya benar – benar tidak terima, anak saya tidak salah apa – apa tapi malah jadi korban”,” tambah Andre.
Untuk sementara ini, kasus ini masih dalam tahap penyelidikan Polisi Sektor Semarang Barat. (eko/fra)

*

*

Current ye@r *

Top