Polisi Didesak Tangkap 500 Pemain Asing di IPL dan ISL

Ilustrasi

Jakarta - Polri didesak segera menangkap sekitar 500 pemain dan mantan pemain asing ISL dan IPL yg berkeliaran di Indonesia. Sebab keberadaan mereka bisa mengganggu kamtibmas.

Ilustrasi

Apalagi sebagian besar para pemain asing itu kini main di antar Kampung (Tarkam), yang bisa menghilangkan lapangan kerja bagi para pemain lokal tingkat Tarkam.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane  menduga ijin tinggal para pemain asing itu
sudah habis dan mereka tidak memiliki ijin kerja. Namun mereka akan dikaryakan di Kompetisi Sepakbola Liga Super Indonesia (ISL) dan Liga Primer Indonesia (LPI).

“Berkaitan itu, kami menghimbau Polri agar tidak memberi ijin penyelenggaraan ISL dan IPL karena mengkaryakan pemain asing yang tidak memiliki ijin tinggal dan ijin kerja,” ujar Neta S Pane.

Lebih lanjut Neta mengatakan, pihaknya memperkirakan ada sekitar 330 pemain asing yang bercokol di setiap musim kompetisi di Indonesia. Untuk Liga Super (ISL dan IPL) ada 150 pemain asing dan untuk Divisi Utama ada 180 pemain asing.

“Hingga saat ini kompetisi sudah berlangsung 14 musim. Setiap musim rata-rata bertambah 20-30 persen pemain asing. Sehingga diperkirakan sedikitnya ada 500 pemain asing di Indonesia saat ini. Pertanyaannya, apakah jika tidak ada kompetisi, para pemain asing itu kembali ke negaranya ?,” tuturnya.

Dan apakah jika mereka tidak dipakai lagi oleh klub-klub di ISL dan IPL, mereka pulang ke negaranya ? Ternyata tidak. Para Pemain Asing itu tetap berkeliaran di Indonesia.

“Sebagian besar mereka main di Tarkam. Sebagian dari mereka menjadi orang terlantar di negeri orang karena gajinya tak kunjung dibayar klub di ISL dan IPL. Untuk itu IPW mendesak POA (Pengawasan Orang Asing) Polri segera memburu dan menangkap mereka, untuk kemudian mendeportasinya,” tandas Neta.

Hal tersebut bertujuan agar para pemain asing itu tidak menjadi manusia terlantar di Indonesia, yang akan menggangu kamtibmas dan membuat keresahan bagi pemain lokal.

“Selain itu, sebagai pemain profesional para pemain asing itu diduga tidak membayar Pajak penghasilan. Sementara Direktorat Pajak begitu rajin memburu Pajak dari rakyat kecil, seperti Warteg yang sempat digagas akan dikenakan Pajak. Tapi kenapa para pemain asing ini dibiarkan tidak membayar pajak ?,” pungkasnya. (bye)

Berita Lainnya

*

*

Current ye@r *

Top