Baku Tembak di Solo, Pimpinan Ponpes Ngruki Minta Maaf

PONPES NGRUKI

Sukoharjo – Karena pelaku terduga teroris yang ditembak mati Densus 88 Anti Teror dalam baku tembak di Solo beberapa waktu yang lalu, Pimpinan Pon Pes Ngruki Sukoharjo menyampaikan permohonan maaf  dan rasa prihatin yang  sedalam-dalamnya kepada masyarakat luas atas tindakan sebagian alumninya.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Ustadz Wahyuddin. Namun demikian Wahyuddin menegaskan Ponpes Ngruki sama sekali tidak ada hubunganya dengan para alumni atau jebolan santri yang melakukan aksi terror di Kota Solo, Jateng. Wahyudin menyatakan pihak pengelola tidak akan mungkin melakukan hal-hal yang merugikan ponpes terkait aksi-aksi teror yang terjadi di Kota Solo. Apalagi aksi terror itu sudah membawa korban dan merugikan orang lain di sekitar wilayah Kota Solo.

“Kami mohon maaf seandainya ada alumni atau jebolan pesantren kami yang merugikan orang lain. Kami prihatin dan sekali lagi mohon maaf. Kami juga kaget mendengar informasi ini,” ungkap Wahyuddin kepada wartawan di Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo,  Senin (3/9).

Wahyuddin yang merupakan menantu Abdullah Sungkar ini mengatakan sama sekali tidak mengetahui motivasi yang dilakukan oleh Farhan dan Muchsin, kalaupun keduanya benar-benar sebagai pelaku penyerangan aset dan anggota kepolisian di Solo.

“Kita dikagetkan, aksi anak-anak 19 tahunan. Disebut kader, juga bukan kader. Saya kira itu hanya anak-anak ingusan, pendek nalar dan emosional saja. Mungkin juga ada motif main-main, frustasi, atau putus asa. Mungkin juga karena kondisinya lalu ingin menunjukkan eksistensi untuk menyampaikan pesan bahwa ‘aku masih ada’. Wallahu a’lam,” tegasnya.

Wahyuddin menduga apa yang dilakukan oleh anak-anak itu merupakan bagian dari apa yang mereka sebut dengan “qishash”. Dalam Islam menurutnya memang ada penerapan hukum qishash yaitu penghilangan nyawa harus diganti dengan nyawa.

“Mungkin saja kedua anak tersebut merasa perlu tampil sebagai pembela dari orang-orang yang telah lebih dulu ditembak mati oleh polisi. Mungkin setelah bergaul di luar pesantren, mereka kenal dengan orang-orang yang telah ditembak mati polisi. Lalu timbul tekad membalas perlakukan itu terhadap polisi. Pembalasan yang dilakukan juga kepada polisi secara kelembagaan,” ungkapnya.

Wahyuddin menjelaskan sebelum berita tentang aksi terror ini muncul, ponpes sudah dalam kondisi cukup tenang. Sebab, dalam kurun waktu yang lama sudah tidak dikaitkan dengan berbagai aksi teror dan kekerasan di tanah air.

“Sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, para pengelola semakin memantapkan program untuk mencapai tujuan. Tetapi saat ini, informasi mengenai Farhan dan Muchsin ini muncul kembali mengusik ketenangan di Ngruki,” pungkasnya. (wto/bye)

Berita Lainnya

*

*

Current ye@r *

Top